Harga Discount

Untuk mendapatkan harga DISKON spesial & layanan pesan antar GRATIS, hubungi kami (021) 9833 0857; (021) 27459400; 08158793215

www.saung.amanah.com
www.sarungpekalongan.blogspot.com
email : saung.amanah@yahoo.com



Selasa, 19 Oktober 2010

Tamasya Ke Surga

Penerbit : Darul Falah
Penulis : Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
Rp. 64.000,-
570 hlm/besar-hrd-cv
   
Buku Hadil Arwaah ila Biladil Afraah (Tamasya ke Surga) ini, adalah hamparan kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang tak bertepi. Dengan keluasan rahmat-Nya itu, seorang hamba yang memiliki iman sekecil atom atau dosa berkarat dimasukkan surga dan diberikan kekayaan sepuluh kali lipat raja-raja di dunia dengan syafa'at Ar-Rahman . Sebaliknya, sekalipun seseorang memiliki amal shalih sebanyak tujuh puluh nabi, tidak akan cukup baginya memasuki surga Ar-Rahman , jika hanya mengandalkan amalnya dan mencampakkan rahmat Allah. Sungguh kenikmatan-kenikmatan surga yang tidak sedikit pun terlintas dalam benak manusia dan tiada-tara bandingnya, tidak dapat dicicipi sekalipun dengan amalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam .
Bagaimana bisa dibayangkan, rumah penghuni surga yang dibangun Allah dengan Tangan-Nya sendiri berbentuk istana. Yang materi batu batanya emas dan perak, yang atapnya Arasy Ar-Rahman , yang pepohonannya dari emas dan perak sebening kaca; yang buah-buahannya lebih lembut dari keju dan lebih manis dari madu; yang sungai-sungainya mengalirkan susu, madu dan arak yang tidak memabukkan; yang kebagusan wajah penghuninya seperti rembulan dengan umur tiga puluh tiga tahun; yang kendaraannya kuda dan unta bersayap yang terbang mengantarkan kemana pun mereka suka; yang istri-istri mereka bidadari yang disucikan dan cantik jelita; dan segala kenikmatan yang tidak terbayangkan. Apalagi bila Allah menyingkap tirai-Nya, dan terlihatlah Wajah-Nya Yang Mahaagung sebagai nikmat nomor satu yang mengatasi segala nikmat di surga.
Itulah sekelumit gambaran dari enam puluh sembilan bab pembahasan surga terlengkap karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah . Buku ini memuat banyak sekali hadits-hadits yang marfu' kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , atsar-atsar mauquf para sahabat, misteri-misteri yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur'an, kata-kata mutiara, penjelasan terhadap berbagai masalah dan penggugah terhadap prinsip-prinsip Asma' dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala . Jika pembaca membacanya, maka imannya meningkat dan surga terlihat dengan sejelas-jelasnya olehnya. Seakan-akan ia menyaksikan surga dengan mata kepalanya. Buku ini mengantarkan orang-orang yang bernyali kuat kepada taman-taman indah di surga dan menuntun orang yang bersemangat tinggi kepada kehidupan asri di mahligai-mahligai megah di surga. Insya Allah, Andalah orangnya. Amin.

PUASA SUNNAH, Hukum & Keutamaannya

Penulis : Usamah Abdul Aziz
Harga : 25.000,-

Allah memerintahkan hambaNya untuk melakukan berbagai bentuk ibadah, karena di dalamnya berisi kebaikan dan mendatangkan cinta-Nya. Allah berfirman, "Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya."(Al-Baqarah: 184). Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan segala ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. al-Bukhari). Keutamaan ini bersifat umum yang mencakup semua jenis peribadatan dan ketaatan. Cuma, Allah mengkhususkan puasa dari ibadah-ibadah lainnya, dengan menisbatkannya kepada diriNya, karena kedudukannya dan keutamaannya. "Semua amal ibadah anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, maka ia untukKu dan Aku yang akan memberikan balasannya." Dalam buku yang membahas seluk-beluk puasa sunnah, penulis menampilkan dalil-dalil yang shahih dari hadits a serta atsar sahabat, tabi'in dan orang-orang setelah mereka. Penulis juga mengkutip pendapat para imam yang terpercaya, dengan menjelaskan dalil masing-masing dan mentarjih salah satu dari pendapat-pendapat tersebut sesuai dengan shahih dan dhaif hadits. Tidak terikat dengan salah satu madzhab, tapi mengikuti dalil-dalil yang shahih, seperti pernyataan para ulama, "Bila suatu hadits shahih, maka itulah madzhabku."

Misteri Akhir Dunia

Penulis : Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi

Ukuran : 16 x 24,5 cm (hard cover)
Tebal     : 369 halaman


Harga   : Rp. 110.000,-


Apa yang akan terjadi pada tahun 2010? Benarkah kiamat akan terjadi pada tahun 2012?
Meskipun isu ini hanya datang dari sebuah ramalan suku Maya yang sangat mudah terbantahkan karena tidak didukung oleh argumen yang kuat dan juga ilmu pengetahuan.Namun, isu ini cukup menggemparkan dan membuat banyak orang penasaran sekaligus ketakutan akan kebenaran datangnya hari kiamat pada 2012.
Melalui buku ini, penulis menjelaskan bahwa kiamat yang merupakan akhir dari segala kehidupan dunia ini tidak ada seorang pun mengetahui kapan terjadinya. Kiamat adalah perkara ghaib, namun sebagai bagian dari rukun iman setiap muslim wajib untuk mempercayainya. Islam hanya memberikan tanda-tanda sebagai isyarat dekatnya hari kiamat. Di antara tanda-tandanya ada yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi yang sekaligus mengiringi datangnya hari kiamat. Atau lebih dikenal dengan tanda-tanda kiamat kecil dan tanda-tanda kiamat besar.
Buku ini hadir dalam tampilan yang sangat menarik, eksklusif dan full colour. Yang lebih menarik lagi, selain disertai gambar atau peta sebagai penjelas, setiap pembahasan selalu merujuk kepada dalil Al-Qur`an atau hadits yang shahih. Adapun pembahasannya diawali dengan ‘Urgensi membahas tanda-tanda hari kiamat’, kemudian dilanjutkan dengan ‘Kaidah-kaidah dalam mengaitkan antara dalil-dalil yang berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat dengan peristiwa yang terjadi di alam dunia ini’, ’Makna tanda-tanda hari kiamat’, ‘Tanda-tanda kiamat kecil’ (131 poin) dan ditutup dengan ‘Tanda-tanda kiamat besar’ (10 poin).

Penulis cukup detail memberikan penjelasan tentang tanda-tanda berakhirnya dunia ini. Semoga kehadiran buku ini dapat membantah berbagai isu, mitos, dan ramalan yang mengklaim kapan kiamat itu terjadi.

Kamis, 14 Oktober 2010

Meneladani Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam Berhari Raya

Penerbit : Pustaka Imam As-Syafii
Penulis : Syaikh 'Ali Hasan bin 'Ali al-Halabi al-Atsari
Harga : Rp. 20.000,-
Sesuai dengan judulnya, buku ini mengajak kaum Muslimin untuk meneladani Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dalam berhari raya, baik hari raya ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adh-ha.
Dalam buku ini penulis sengaja hanya menyebutkan hukum-hukum berhari raya yang bersandar pada sunnah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.
     .
Hal ini dilakukan agar ummat Islam terhindar dari praktik-praktik ibadah yang bid’ah dan menyelisihi sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam yang dapat mengakibatkan ibadahnya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Kalaupun menyebutkan pendapat para ulama, penulis hanya mengutip pendapat yang terkuat saja dan mendukung pendapat tersebut dengan dalil-dalil yang shahih. Di sinilah terletak nilai lebih risalah ini.
Nilai lebih yang lain, buku ini menggunakan metode penulisan yang ringkas, ringan, serta mudah dibaca dan dipahami. Di samping itu, didukung pula oleh kapabilitas penulisnya yang seorang ahli hadits sehingga pengetahuannya tentang sunnah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tidak diragukan lagi.
Semoga buku ini bisa bermanfaat bagi kaum Muslimin sebagai pedoman dalam menjalankan ibadah di hari raya yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Amin.

Selamat membaca..

Minggu, 10 Oktober 2010

Mencetak Generasi Rabbani



Pengarang: Abu Ihsan al-Atsary dan Ummu Ihsan
Penerbit: PUSTAKA DARUL ILMI
Harga : Rp. 55.000,-

Resensi:
Ketika seorang anak lahir ke dunia, pastilah berjuta harapan orang tua disematkan di diri sang anak. Banyak orang tua yang berharap anaknya kelak menjadi anak yang pintar, cerdas dan berhasil. Untuk semua itu, orang tua rela berkorban harta, mereka sangat memperhatikan segala kebutuhan anaknya dari mulai gizi, pakaian dan pendidikan, yang diberikan adalah yang berkualitas dan terbaik bagi anak-anaknya. Namun terkadang orang tua lupa, apakah semua yang telah dilakukan untuk menjacfikan sang anak pintar dan berhasil merupakan jaminan bahwa sang anak kelak akan menjadi anak yang shalih? Anak yang berbakti dan merawat orang tua di saat usia senjanya? Anak yang bisa dijadikan tabungan dan manisfestasi orang tua di akhirat? Karena, betapapun sang anak adalah anak yang pintar dan berhasil, itu sama sekali tidak berguna jika yang diberikan sang anak kepada orang tuanya adalah kedurhakaan dan kebobrokan iman. Buku ini, menuntun setiap orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya dengan benar sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, menjadikan anak yang bukan hanya pintar dan berhasil tapi anak yang shalih dan shalihah, yang dapat menjadi Generasi Rabbani, generasi yang unggul keilmuan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara materi pada buku ini: 1) Mendidik anak dalam kandungan 2) 10 karakter pendidik sukses Pengajaran ilmu agama dan dunia pada anak 3) Memahami psikologi anak 4) Anak dan sosial kemasyarakatan 5) Jasmani dan kesehatan pada anak 6) Menempa mental anak 7) Persiapkan anak untuk berdakwah di jalan Allah 8) Metode pengajaran pada anak 9) Anak dan pendidikan seksual dll.

Romantika Kawin Muda

Penerbit : Abu Hanifa
Penulis : Zainal Abidin bin Syamsudin
Harga : Rp. 70.000,-

Resensi :
Pernikahan, adalah ladang keberkahan, ketenangan dan kecukupan, serta kebahagiaan hidup. Tidak ada alasan bagi siapapun, baik laki-laki atau perempuan untuk menunda pernikahan, apalagi menolak jodoh yang sudah cocok dari sisi agama dan akhlaknya. Bersegera menikah sungguh sangat bagus, terutama bagi wanita, demi menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Jangan menunda pernikahan hanya karena alasan studi, kerja atau karier. Karena hanya dengan menikah kebahagiaan dan ketenangan hidup akan tercapai, nikmatnya hidup tidak akan diperoleh di kampus atau di tempat kerja atau di puncak karier, tapi di dalam pernikahan. Tidak percaya, silahkan buktikan!!!!!!
         Sudah menjadi opini umum, bahwa pemicu utama gagalnya rumah tangga adalah kawin muda. Bahkan orang-orang awam memberi komentar miring dan berlebihan seputar gambaran kawin muda. Sehingga stigma yang tercipta menjadi sangat mengerikan, membuat bulu kuduk merinding mendengarnya, serta menyiutkan nyali para pemuda dan pemudi yang hendak menikah. Maka, siapa saja yang menikah di usia muda, apalagi belum mempunyai pekerjaan, akan dihakimi massa, dicibirkan calon mertua, dijadikan bahan gunjingan oleh masyarakat, bahkan media pun ikut-ikutan mengadilinya. Namun setelah dikaji dan diteliti hal-hal yang mereka khawatirkan, ternyata bukan semata-mata karena kawin muda, tapi bersumber dari pengaruh negatif Iingkungan serta problem rumah tangga yang tak terselesaikan. Dan hal ini bisa saja menimpa mereka yang kawin pada usia dewasa.
        Menumpuknya problematika Rumah tangga yang tidak terselesaikan dengan tuntas, akan membawa dampak yang buruk bagi berlangsungnya kehidupan rumah tangga. Terkadang masalah demi masalah yang dihadapi bisa
diselesaikan dengan baik, karena mereka berusaha untuk menyelesaikan dengan sungguh-sungguh. Adapun problem yang tidak terselesaikan dengan baik bisa jadi karena berbagai faktor. Misal, saat terjadi konflik ada salah satu pihak yang mengalah demi kebaikan rumah tangganya, namun pada kenyataannya, di dalam hatinya tetap meng-ganjal masalah tersebut. Dan penyelesaian masalah yang tidak tuntas semacam ini akan menjadi bom waktu yang tetap aktif. Maka saat ada pemicunya, ia sewaktu-waktu dapat meledak dan meluluh-lantakkan rumah tangga mereka. Ada pula rumah tangga yang dalam menghadapi masalah masing-masmg pasangan tetap mempertahankan egonya. Bila hal ini yang terjadi, maka rumah tangga akan hancur berantakan dalam waktu sekejap. Tidak dielakkan lagi, bom PERCERAIAN pun meledak dengan hebatnya.
        Pernikahan adalah langkah awal untuk memberi perlindungan kaum hawa. Karena melalui pernikahan, tujuan hidup mulia untuk membina rumah tangga yang bahagia dan harmonis akan tercapai. Namun sayang, tidak jarang keharmonisan rumah tangga yang dibina harus kandas di tengah jalan. Ini bukan karena kawin muda, tetapi karena kurang siapnya mental dalam menghadapi gejolak rumah tangga, minimnya ilmu agama di tengah keluarga, serta lemahnya kesadaran dari kedua pasangan tentang tujuan hidup, yaitu hanya untuk ibadah kepada Alloh Azza wa Jalla

Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku

Penerbit : Abu Hanifah
Penulis : Zainal Abidin bin Syamsudin
Harga : Rp. 70.000

Resensi:
Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah cerai, maka jangan memilih langkah perceraian kecuali dalam kondisi sangat mendesak dan darurat Begitu juga kaum wanita, jangan gampang menuntut cerai kecuali karena adanya alasan syar’i. Dan di antara alasan seorang wanita boleh mengajukan tuntutan cerai, ketika sang suami tidak menunaikan hak-haknya secara wajar, sementara bila tetap hidup bersama, dirinya akan mengalami kehancuran.
Sebagian wanita ada yang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan problem rumah tangganya. la kurang berfikir panjang dan merenungkan dampaknya di kemudian hari. Maka dengan mudah ia dapat mengatakan “Kalau Kau Jantan, Ceraikan Aku!”.
Kata-kata ini bisa meluluh-lantakkan bangunan rumah tangga dan mengoyak pondasi kehidupan. Dan Alloh Azza wa Jalla sangat murka dengan kata-kata itu kalau diucapkan tanpa alasan yang diboleh-kan dalam syariat, karena demikian itu bisa menjauhkan wanita dari surga.
Sebagaimana sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
“Wanita mana saja yang meminta thalak kepada suaminya tanpa alasan, maka haram baginya aroma surga.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi sementara beliau menghasankannya)
Ketika sang suami mendengar kata-kata emosional meluncur tajam dari mulut sang isteri;    “Kalau kau jantan, ceraikan aku sekarang juga!”
Seorang suami yang cerdik dan bijak akan membalas kata-kata isterinya dengan senyum yang terindah, meskipun sedang menahan amarah. Lalu dengan kepala dingin dan penuh kelembutan, berkata:
“Sungguh, karena saya jantan, maka tidak mungkin menceraikanmu, sayang”
Berbagai macam faktor perceraian yang timbul di setiap rumah tangga, boleh jadi akibat keteledoran dari pihak suami atau pihak isteri, atau keluarga pihak suami atau keluarga pihak isteri, atau bahkan dari pihak luar yang ingin merusak ketentraman dan memperkeruh suasana bahagia. Namun sering kali semua pihak  cenderung lepas tangan dan tidak mau bertanggung jawab terhadap masalah yang timbul di tengah keluarga. Bahkan semua pihak tidak segan-segan mencari kambing hitam dan membenarkan dirinya sendiri. Saat badai menggoncang dan bahtera rumah tangga pecah oleh perceraian, semua pihak baru tersadar. Akhirnya, kenyataan yang terjadi adalah sang isteri hidup merana dan anak-anak pun terlantar, sedangkan harapan untuk bersatu tidak lagi memungkinkan.